Archive

Archive for the ‘Malaysia’ Category

Surah Al-Kafirun untuk siapa?

 

 

 

 

 

Sesetengah orang Islam sejak kebelakangan ini begitu keberatan untuk menggunakan istilah ‘kafir’ untuk merujuk kepada orang bukan Islam. Rata-rata beranggapan istilah ini terlalu keras dan cuma terpakai untuk mereka yang secara terang-terangan memerangi Islam. Sebaliknya, mereka lebih suka mempergunakan istilah non-muslim, not yet muslim, belum Islam atau yang seangkatan dengannya.

Abul A`la Al-Maududi ada membincangkan istilah kafir ini dalam buku “Asas-asas Islam”. Antara yang dibincangkan ialah maksud perkataan kafir itu sendiri, dengan membawa beberapa contoh penggunaan perkataan tersebut dalam bahasa Arab dan di dalam Al-Quran itu sendiri. Secara ringkas, perkataan kafir, selain dari membawa maksud ingkar juga membawa maksud tutup, dinding dan terlindung. Ertinya orang kafir bukan sahaja mereka yang ingkar, menolak seruan dan memusuhi Allah, bahkan juga merangkumi mereka yang terlindung daripada mengenal fitrah, tertutup pengetahuan mereka daripada seruan Islam dan terdinding daripada melihat hakikat Islam dan keimanan terhadap Allah.

Mari kita telusuri hakikat perkataan kafir ini dengan melihat bagaimana ayat-ayat Allah yang diturunkan khusus kepada orang-orang kafir :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (109:1)
• 109:1 “Katakanlah: “”Hai orang-orang yang kafir,”
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (109:2)
• 109:2 aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (109:3)
• 109:3 Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ (109:4)
• 109:4 Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (109:5)
• 109:5 Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (109:6)
• 109:6 “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku””.”

Kepada siapakah ayat-ayat ini Allah tujukan, adakah hanya kepada orang yang menentang dan memerangi Islam? Sekiranya-kita perhatikan dengan teliti, ayat-ayat ini diturunkan sebagai menjawab tawaran sebahagian orang orang kafir Quraisy yang tidak menginginkan perpecahan di kalangan kaum mereka yang pada masa itu menguasai Mekah.

Rasulullah adalah daripada Bani Hasyim, keluarga bangsawan yang terhormat, dan cucu kepada Abdul Muttalib yang juga pemimpin yang disegani dalam kalangan orang-orang Quraisy. Dakwah Islam pula diterima oleh mereka yang terkenal dengan sifat-sifat mulia, seperti Abu Bakr As-Siddiq, dan mereka yang memiliki kekayaan seperti Abdurrahman bin Auf dan Uthman bin Affan.

Orang-orang kafir Quraisy yang pada masa itu mementingkan kedudukan mereka sebagai bangsa yang utama di Semenanjung tanah Arab. Mereka tidak menginginkan perpecahan dan mahukan suasana harmoni dikekalkan, demi untuk menjamin kedudukan dan kekayaan mereka, memungut hasil daripada orang-orang yang datang mengunjungi berhala-berhala mereka di sekeliling kaabah. Mereka tidak mahu agama sembahan nenek moyang mereka di cabar dengan agama baru yang dibawa oleh Muhammad.

Mereka inilah yang datang dan membuat tawaran kepada yang pelbagai kepada Rasulullah, yang berbentuk pangkat, wanita dan harta benda. Mereka juga menawarkan supaya berhala sembahan mereka dan Allah disembah secara bergilir-gilir. Mereka datang menawarkan kompromi dan penyelesaian menang-menang, yang memastikan tiada perpecahan dan membolehkan agama mereka dan agama yang baru diseru oleh Rasulullah diamalkan silih berganti.

Mereka inilah yang Allah serukan dengan panggilan wahai orang-orang kafir! Satu seruan dengan keputusan yang muktamad.

Mereka yang dipanggil kafir ini bukan hanya mereka sekadar yang memerangi Islam, kerana pada masa itu belum terjadi apa-apa peperangan di Makkah antara orang Islam dan orang kafir, ketika ayat Makiyyah ini diturunkan.

Alangkah kejinya sekiranya ada umat Islam hari ini yang keberatan pula menggunakan istilah kafir dengan alasan untuk menjaga keharmonian, mengelak perpecahan, mengelak daripada menyinggung perasaan sasaran dakwah mereka dan beralasan bahawa Islam adalah agama rahmat kepada seluruh alam.

Penyelewengan apakan ini? Menyeleweng daripada nas al-Quran yang jelas dan pasti.

The pot who called kettle black

(This piece was first published at ISMAWEB, 
followed by other online media, here and here)

Disgusted, appalled, perplexed. Even those words cannot really explain what is going on in my mind. I am so confused to see those whom for years or even decades strongly claimed to be the advocates of freedom of speech, whom said the Sedition Act should be abolished together with other outdated laws such as ISA and Emergency Ordinance, are now making police reports against a voice that they deemed seditious.

These same people who went around the world crying foul when some of their leaders are convicted and punished using the Sedition Act, saying that this Act have been abused as one of the political tools to silent their voices and stripped them from their seats are now trying to use the same act to silence the voice that is just quoting a historical fact from an academic publication. Is this not against their own belief of free speech?

Perhaps we should remind them that they are the ones that have been consistently bringing up, twisting, stirring and spinning any matters related to Islam’s status as the federal religion, the Malay and bumiputera special rights in the constitution, the status of the Malay language as our national language, which Quranic versus should be quoted during Friday sermon and even Jawi writing is not being spared. The harmony that has been built all these years and the very foundation of the nation is being hacked in every possible way.

These are the people whom are not shy to portray and highlight all the negative things about Islam and the Malay race and culture. These same people are so outspoken in their publication in print and in the electronic media downgraded and criticized everything that is controlled by Malays, from the national car Proton, to the national airlines MAS, to the national oil company PETRONAS, from the tiniest thing to the largest. Malays were always associated with negativity.

These are the same people that go all the way to claim, “Malays are PENDATANG too”. Suddenly they went all berserk when it was simply brought up that actually “the British allowed a constant influx of Chinese seeking their fortunes in the tin mines and in trade” as described by Professor Emerson of Harvard University from his book Malaysia, A Study in Direct and Indirect Rule. Have they suddenly forgotten this historical fact in their so-called pursuit of a ‘free’ Malaysia?

It is indeed a good thing that somebody finally has the courage to put the facts straight, calling a spade a spade, calling those whom have mass-migrated as migrants, and calling those who come from far to disrupt harmony as ‘intruders’. We have been by far too accommodating, too apologetic, too naïve to let others play their dirty games, times and again, and taking advantage of the lack of a political will among our leaders. At the same time, we welcomed and will continue to welcome those who came to share this land, respecting the law of the land, the existing religion and culture, and furthermore ready to assimilate and be one united nation.

May we have more people like Ustaz Abdullah Zaik and more NGOs like ISMA.

Zaizul Azizi Zaman
ISMA Activist

»For those who may need a bit of help, Wikipedia says:

The phrase “The pot calling the kettle black” is an idiom used to claim that a person is guilty of the very thing of which they accuse another.
As generally understood, the person accusing (the “pot”) is understood to share some quality with the target of their accusation (the “kettle”). The pot is mocking the kettle for a little soot when the pot itself is thoroughly covered in it.
An alternative interpretation, recognized by some, but not all, sources is that the pot is sooty (being placed on a fire), while the kettle is clean and shiny (being placed on coals only), and hence when the pot accuses the kettle of being black, it is the pot’s own sooty reflection that it sees: the pot accuses the kettle of a fault that only the pot has, rather than one that they share.